Kemiskinan Menyeret Anak-anak Nelayan Putus Sekolah
Oleh Ghiok Riswoto
SALAH satu cara penyelenggarakan pendidikan adalah dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Penegasan itu jelas tercantum dalam Undang- undang Nomor 20 tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional, Bab III Pasal 4 ayat 5. Begitu pentingnya sehingga lelulur bangsa indonesia menciptakan ungkapan membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudang ilmu adalah buku.
Lalu apakah hal itu berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan, bagaimana sebenarnya kondisi dunia pendidikan di indonesia? Jawabannya sangat memprihatinakan. Beragam alasan dan persoalan
menjadi salah satu persoalan besar buramnnya pendidikan kita.
Salah satunya bahkan sudah merenggut generasi muda seperti yang terjadi di sejumlah kawasan daerah nelayan. Kemiskinan serta penderitaan hidup memaksa sebagian anak nelayan harus kehilangan kesempatan mengenyam bangku sekolah. Mereka bahkan lebih senang membantu orang tua menangkap ikan atau menghabiskan waktu dengan bermain di tepi pantai.
Meski tidak ada satupun hasil survey dari dinas atau instansi terkait yang bisa menyuguhkan data akurat. Namun,penelusuran tim “MD”, di sejumlah perkampungan nelayan seperti nelayan Panjunan,
nelayan Samadikun dan nelayan kesunean cukup mencengangkan.
Pasalnya, angka anak-anak yang terpaksa tidak bisa mengenyam dunia pendidikan cukup banyak dialami anak-anak nelayan kita.
Dalam kurun waktu 2006 misalnya, anak-anak nelayan yang tidak bisa sekolah mencapai 291 anak dengan tingkatan usia 7 sampai 20 tahun.
Secara rinci data yang berhasil dikumpulkan di Kelurahan Panjunan Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon yang mayoritas dihuni oleh masyarakat nelayan menyebutkan, dari jumlah KK 1110, jumlah jiwa sebanyak 4797 terdiri dari laki-laki 2265 jiwa dan perempuan 2332. Tingkatan pendidikan usia 7-12 tahun, dari 1197 anak 852 sekolah sisanya sebanyak 45 anak tidak sekolah.
Sementara usia 13-15 tahun, dari 640 anak 579 sekolah dan 61 lainnya tidak sekolah. Untuk golongan 15 tahun ke atas dari 1789 tercatat 185 tidak sekolah dan sisanya 1625 sekolah.
Selain faktor kemiskinan, ketidakseriusan jajaran Pemerintah Kota Cirebon dan unsur pendidikan juga memiliiki andil besar terhadap banyaknya anak nelayan yang tidak bisa meneruskan sekolah atau
terpaksa droup out.
Jika data ditahun 2006 di satu kelurahan kampung nelayan sebanyak 291 anak tidak bisa sekolah. Bukan hal mustahil jika angka tersebut kini akan semakin bertambah besar. Alasannya, kesulitan
melaut akibat beberapa fenomena alam serta naiknya harga sejumlah barang yang dipicu akibat kenaikan BBM tentunya sangat berpengaruh terhadap dunia pendidikan anak-anak nelayan.
Sebagai contoh yang terjadi pada pasangan suami istri Suwarto (40) dan Wasti’ah (38) warga RW 01 Pesisir Utara Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon.
Kelima anak asil dari perkawinan mereka terpaksa hanya dua yang bisa sekolah. Adis Suudirman (20) anak pertama dan Windasari (15) anak kedua mereka terpaksa harus puas sekolah sampai kelas 6
SD karena tidak ada biaya. Sementara anak ketiga dan keempatnya, Ridwan dan Sumaheni kini duduk di bangku sekolah dasar kelas IV dan kini terancam gagal. Sementara anak terakhir mereka Desi
Puspitasari (9) lebih mengkhawatirkan karena terancam tak bisa masuk sekolah.
Selain faktor kemiskinan, persoalan lain karena lemahnya jajaran pemkot Cirebon dan dinas- dinas terkait dalam melakukan pendataan. Karenanya bagaimana mungkin jika pemkot atau jajaran
disdik bisa mengentaskan persoalan pendidikan di kampung nelayan, jika data resmi juga mereka tidak punya. Sehingga kalau ada evaluasi dari Disdik itu tentu hanya sebatas wacana, karena
jajaran disdik mulai dari UPTD, hingga kantor Dinas sama sekali tak pernah melakukan pendataan secara menyeluruh.
Rujukan lain yang cukup mengagetkan jika kita mengkaji beberapa data penemuan secara nasional yang menunjukan betapa lemahnya bangsa kita di sektor pendidikanj.
Secara keseluruhan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bangsa Indonesia data itu menggambarkan bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11 persen. Sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22
persen, buku cerita 16,72 persen, buku pelajaran sekolah 44.28 %, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07 persen.
Data BPS lainnya juga menunjukkan bahwa penduduk Indonesia belum menjadikan membaca sebagai informasi. Orang lebih memilih televisi dan mendengarkan radio. Malahan, kecenderungan cara mendapatkan informasi lewat membaca stagnan sejak 1993. Hanya
naik sekitar 0,2 persen. Jauh jika dibandingkan dengan menonton televisi yang kenaikan persentasenya mencapai 211,1 persen.Data 2006 menunjukkan bahwa orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari total penduduk.
Sedangkan, dengan menonton televisi sebanyak 85,9 persen dan mendengarkan radio sebesar 40,3 persen.Angka-angka tersebut menggambarkan bahwa minat penduduk Indonesia masih rendah. Padahal, untuk meningkatkan minat baca, harus dimulai sejak anak-anak. Namun, saat ini pun kondisi kemampuan membaca (reading literacy) anak indonesia masih rendah. Tidak perlu membandingkan dengan negara yang sudah maju, dengan sesama negara yang berkembang lainyapun kemampuan membaca anak-anak Indonesia masih rendah.
Data lain juga menunjukan yang sama. Pada 1992, Internasional Associations for Evaluation of Educational (IEA) melakukan studi kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV di 30 negara dunia. Kesimpulan dari studi tersebut menyebutkan bahwa indonesia menempati urutan ke-29! Hanya setingkat diatas negara Venezuella.
Lalu, dalam laporan Worl Bank dalam sebuah laporan pendidikan Education In Indonesia From Crisis to Recovery menyebutkan bahwa kemampuan membaca ana-anak kelas IV sekolah dasar di Indonesia masih dibawah negara Asia lainnya. Laporan tersebut mengutip hasil Vincent Greannary pada 1998 yang menunjukkan Indonesia hanya mampu meraih nilai 51,7. Sedangkan negara Asia lainnya yang juga menjadi objek nilai, seperti Filipina memperoleh nilai 52,6, Thailand 65,1, Singapura 74,0 dan Hong Kong 75,5.Buruknya kemampuan anak-anak Indonesia berdampak pada penguasaan
bidang ilmu pengetahuan dan matematika. Hasil tes yang dilakukan Trends in Science Study (TIMSS) 2003 terhadap para siswa kelas II SLTP 50 negara di dunia, menunjukkan prestasi siswa-siswa Indonesia berada di peringkat ke-36 dengan nilai rata-rata Internasional 474.Merujuk pada data-data tersebut memang tidak adil, jika kita memvonis terlalu jauh terhadap dunia pendidikan kita. Namun fenomena yang terjadi di sejumlah anak-anak nelayan tentu harus menjadi tanggung jawab bersama. Pasalnya, bicara wilayah Pantura Cirebon tak akan pernah lepas dari kehidupan nelayan yang setiap hari bergelut dengan kemiskinan dan kesengsaraan. Tak heran jika
kemudian kesengsaraan tersebut merembet ke berbagai sektor lain termasuk pendidikan.
Cukup menarik. Namun saya lihat tidak ada reference darimana data tersebut didapat,,,mohon info
Rina - January 13, 2009 at 7:56 am
Makasih banget Mba Rina udah mau nyempetin waktu membaca tulisan saya…tapi mohon maaf karena kesibukan harian saya, baru kali ini sempat membalas apa yang jadi tanda tanya Mba Rina selama ini. Maklum, meski hanya aktif di koran lokal harian Cirebon, tapi ternyata lelah banget. Setiap hari harus kejar-kejaran dengan deadline.
Oh ya..di sini saya memang tidak mencantumkan referensi data. Karena apa yang saya tulis merupakan hasil investigasi. Di sepanjang pesisir pantai Kota Cirebon yang hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan, rata-rata berpendidikan lemah.
Kalau Mba Rina pengin tahu, anak-anak disini lebih senang bermain di pantai dari pada masuk taman kanak-kanak. Apalagi di perkampungan2 nelayan tak ada satupun prasarana pendidikan semisal TK atau prasarana lainnya.
Ghiok Riswoto - January 29, 2009 at 4:26 pm
Dear Mas Ghiok,
Saya panggil mas aja. kalo bapak, kok kesannya tua. maaf, kalo anda kurang berkenan. saya tertarik membaca tulisan anda ini. kebetulan saya sedang menyusun proposal yg berhubungan dengan pendidikan anak nelayan. kalau boleh, saya ingin mengetahui lebih banyak lagi fenomena anak nelayan putus sekolah ini. Terima kasih.
Cheers,
Ardanti
Ardanti - August 21, 2009 at 4:03 am